Kristus yang tersalib dan bangkit

Kontemplasi-kontemplasi dalam Minggu Ketiga Latihan Rohani adalah untuk membangiu “compassion” dalam perbagai arti dan dimensi.

1. Dalam lingkungan pengertian kita, “compassion” diterjemahkan dengan bela rasa – dan hal itu bukannya hanya berarti sama-sama merasa. Bela rasa menjeratkan orang dalam penderitaan yang sama untuk memperjuangkan hidup (dan melibatkan orang dalam gairah menyebarkan kegembiraan). Karena terancamlah hidup sesamaku/sahabatku/kekasihku, aku membela hidup bagaikan hidupku sendiri. Dengan menjadi compassionate bersama Kristus bersengsara, mengikuti Kristus lebih dari hanya sekedar usaha devosional ataupun asketik. Compassion untuk apa? Habis Kristus sudah lama bangkit.

2. “Compassion” berarti “kesusahan, sesal dan rasa aib, sebab untuk dosa-dosaku Tuhan pergi menyongsong sengsara” (LR 193). Jalan Tuhan yang melangkah masuk sengsara diawali dalam keputusan Allah (LR 104) dan dalam peristiwa inkarnasi dan kelahiran “dalam puncak kemiskinan dan sesudah menderita sedemikian banyak....akhirnya wafat di salib” (LR 116). Yang mengkontemplasikan sengsara mau ber-compassion dengan Tuhan yang menempuh jalan, transendensi ke bawah.

Maka orang meng-considerar apa yang diderita Kristus dalam kemanusiaanNya, dalam kesatuan hidup dan nasib dengan manusia. Kristus menderita kesusahan, kekacauan, kesakitan, dan derita, diremukkan dan disiksa secara mendalam (bdk LR 193, 203). Singkatnya, segala gejala dan efek dosa menghancurkan hidup.

Dan selanjutnya orang meng-considerar bagaimana ke-Allah-an tidak menghancurkan musuh, melainkan bersembunyi, bersusah payah, bekerja. Bukan untuk merombak situasi, juga bukan untuk bayar silih, melainkan untuk mempertahankan kehidupan dalam segala sesuatu yang melawannya.

Dikontemplasikan sengsara Kristus untuk menjadi satu hidup dengan kuasa Allah dalam kelemahan manusia.

3. Yang kumohon bukan sekedar rasa sedih (aduhai, kepala berduri berdarah), melainkan kesusahan bersama Kristus yang susah, kehancuran hati bersama Kristus yang hancur hati, dan siksaan yang telah diderita Kristus. Bukan pengalaman, derita dan kerja yang menyelamatkan melainkan agar saya ditempatkan bersama Kristus. Maka kita tidak memohonkan segala wujud emosi melainkan agar Tuhan berkenan menerima kita dalam pengabdian seperti ini.

4. Adalah compassion, bahwa orang menawarkan diri untuk emperesa yang sama dan menimbang-nimbang “apa yang harus kukerjakan dan kuderita bagiNya”. Orang ber-labor dengan Kristus yang menempuh cara Allah, untuk dalam kehancuran dan ancaman mempertahankan hidup. Menurut, Tom Jacobs, kontemplasi Minggu ketiga adalah kontemplasi solidaritas. Allah dan manusia terlibat dan bertanggung jawab dalam kepentingan bersama.

 

Menghibur adalah kata kunci Minggu keempat, lebih dari sekedar hiburan.
1. KeAllahan yang bersembunyi dan berkerja dalam sengsara, tersingkap dalam kebangkitan suci dan dampak-dampaknya (kemuliaan dan kegembiraan). Hiburan adalah pengalaman kehadiran Allah dalam tanggung jawab hidup manusia (dan segala tambahan iman, harapan, dan cinta).

2. Kontemplasi yang memberi “hiburan rohani” mulai dengan kisah: sesudah Kristus wafat di salib, TubuhNya tertinggal terpisah dari JiwaNya, tetapi bersatu dengan keAllahanNya. Dalam kebangkitan Kristus, keAllahan turun ke dalam kubur dan berada di dalamnya sehingga yang paling jauh dari hidup pun bersatu dengan Allah yang hidup.

Adalah kebangkitan bahwa segala sesuatu telah menjadi lain. Adalah api yang hidup membara betapapun tebal lapis abu diatasnya, sehingga demi api yang ada “terkubur” dalam dunia dan hidup “iman Kristiani mencintai bumi”.

3. Kristus punya “ofisi” untuk menghibur, bukan untuk mengusap air mata melainkan sebagai “sahabat dengan sahabat’, artinya dengan berbagi hidup.